Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Manusia mempunyai akal yang membedakannya dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Akal yang dimilikinya membuat manusia mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan hidup dalam kehidupannya. Manusia juga mampu membuat peralatan-peralatan yang dapat meringankan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemampuan manusia membuat peralatan bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan begitu saja, tetapi telah melalui proses pengalaman. Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui menjadi dasar bagi pembentukan pengetahuan, dengan pengetahuan yang telah dimiliki inilah manusia dapat membuat peralatan-peralatan tersebut.
Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman menyebabkan manusia terus mengembangkan pengetahuannya. Untuk mengembangkan pengetahuannya tersebut dibutuhkan juga sarana. Sarana yang baik memungkinkan manusia akan memperoleh pengetahuan baru melalui aktivitas berpikir yang benar.
Berpikir ilmiah dan melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah, bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar atau pengetahuan ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia jelas memerlukan sarana atau alat berpikir ilmiah. Sarana ini bersifat pasti, sehingga aktivitas atau kegiatan ilmiah tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut. Penguasaan sarana ilmiah sangat penting bagi ilmuwan agar dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana berpikir ilmiah membantu manusia menggunakan akalnya untuk berpikir dengan benar dan menemukan ilmu yang benar.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berpikir ilmiah yaitu bahasa, matematika, dan statistika. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif. Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Salah satu langkah kearah penguasaan adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah. Dalam tulisan ini secara khusus dibahas mengenai statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.
1.2. Rumusan Masalah
  1. Apa peranan statistika dalam sarana berpikir ilmiah?
  2. Bagaimana statistika berpikir secara induktif?
  3. Sebutkan peran statistika dalam tahap-tahap metode keilmuwan?
1.3. Tujuan
Makalah ini ditulis untuk membahas dan memahami tentang sarana berpikir ilmiah, meliputi:
  1. Untuk mengetahui peranan statistika dalam sarana berpikir ilmiah
  2. Untuk mengetahui cara statistika berpikir secara induktif
  3. Untuk mengetahui peran statistika dalam tahap-tahap metode keilmuwan
1.4. Manfaat Makalah
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memudahkan orang-orang untuk mengetahui dan memahami statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Peranan Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Surisumantri (2009), “Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh”. Sarana ilmiah merupakan suatu alat, dengan alat ini manusia melaksanakan kegiatan ilmiah. Pada saat manusia melakukan tahapan kegiatan ilmiah diperlukan alat berpikir yang sesuai dengan tahapan tersebut. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena manusia berpikir mengikuti kerangka berpikir ilmiah dan menggunakan alat-alat berpikir yang benar.
Untuk mendapatkan ilmu diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir diperlukan untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik dan teratur. Sarana berpikir ilmiah ada empat, yaitu: bahasa, logika, matematika dan statistika (Suriasumantri, 2009). Sarana berpikir ilmiah berupa bahasa sebagai alat komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain, logika sebagai alat berpikir agar sesuai dengan aturan berpikir sehingga dapat diterima kebenarannya oleh orang lain, matematika berperan dalam pola berpikir deduktif sehingga orang lain dapat mengikuti dan melacak kembali proses berpikir untuk menemukan kebenarannya, dan statistika berperan dalam pola berpikir induktif untuk mencari kebenaran secara umum.
Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata “status” (bahasa latin) yang punya persamaan arti dengan “state” (bahasa inggris) dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Negara. Pada mulanya kata “statistik” diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara. Perkembangannya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja (Anas Sujono, 1996). Lebih lanjut statistik juga mengemukakan nilai yang merupakan hasil pengolahan dari bilangan atau pengukuran yang telah dikumpulkan (Jujun S. Suriasumantri, 1984). Secara terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian:
1.      Statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan
2.      Kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan
3.      Metode statistik yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.
4.      Statistik dewasa ini juga dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik. Dengan ungkapan lain, ilmu statistik adalah ilmu pengetahuan yang membahas (mempelajari) dan mengembangkan prinsip-prinsip, metode atau prosedur yang perlu ditempuh dan dipergunakan dalam rangka: (1) pengumpulan data angka, (2) penyusunan dan pengaturan data angka, (3) penyajian atau penggambaran atau pelukis data angka, (4) penganalisaan terhadap data angka, (5) penarikan kesimpulan (conclusion), (6) pembuatan perkiraan (estimation) serta (7) penyusunan ramalan (prediction) secara ilmiah (dalam hal ini secara matematik) atas dasar pengumpulan data angka tersebut (Anas Sudijono, 1996).
            Secara garis besarnya, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka dan informasi. Mengacu kepada hal tersebut, maka statistik diartikan juga sebagai ilmu pengumpulan, analisis dan klarifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi (Pius A. Pratanto, 1994). Statistika juga dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang mengumpulkan, menganalisis dan menggolongkan bilangan atau data sebagai dasar induksi (Burhanuddin Salam, 1997). Jadi statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.
            Bidang keilmuan statistika merupakan sekumpulan metode untuk memperoleh dan menganalisis data dalam mengambil kesimpulan berdasarkan data tersebut. Dalam konteks keilmuan, statistika merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan dalam mendeskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka, baik melalui perhitungan maupun pengukuran. Statistika digunakan untuk menarik kesimpulan dari yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan (Jujun S. Suriasumantri, 1984).
Suriasumantri (2009), “Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.”
Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah tidak memberikan kepastian namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah.
2.2. Statistika Berpikir secara Induktif
            Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah sesuai faktual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan alat-alat yang membantu pancaindera tersebut. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kalau telaah lebih dalam, pengujian merupakan suatu proses pengumpulan data yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Sekiranya hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka pernyataan hipotesis tersebut diterima atau disahkan kebenarannya. Sebaliknya jika hipotesis tersebut bertentangan dengan kenyataan, hipotesis itu ditolak. Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual.
Jujun S. Suriasumantri, mengatakan ketepatan penarikan kesimpulan tersebut tergantung pada tiga hal yaitu : [1] kebenaran premis mayor, [2] kebenaran premis minor, dan [3] keabsahan pengambilan keputusan.  Oleh karena itu, apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak memenuhi persyaratan, maka kesimpulan yang diambil atau diputuskan akan salah. Contoh berpikir induktif,  simpulan yang diharapkan berlaku umum untuk suatu kasus, jenis, dan peristiwa, atau yang diharapkan adalah agar kasus-kasus yang bersifat khusus dapat dimasukkan ke dalam wilayah umum, yang menjadi simpulan. Misalnya : [1] P – penduduk desa A = adalah pegawai, [2] Q – penduduk desa A = adalah pegawai, [3] R – penduduk desa A = adalah pegawai, [4] S – penduduk desa A = adalah pegawai, [5] Y – penduduk desa A = adalah pegawai, [6] Z – penduduk desa A = adalah pegawai. Kesimpulan – jadi semua penduduk  [ P sampai Z ] yang mendiami desa A adalah pegawai.  Menurut Kasmadi, dkk., pola berpikir ini adalah berpikir induksi komplet.

 
            Selain itu, Jujun S. Suriasumantri juga mengatakan bahwa pengujian statistik mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat, maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksud merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. Dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif.
            Logika induktif, merupakan sistem penalaran yang menelaah prinsip-prinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. Logika ini sering disebut dengan logika material, yaitu berusaha menemukan prinsip penalaran yang bergantung kesesuaiannya dengan kenyataan. Oleh karena itu kesimpulan hanyalah kebolehjadian, dalam arti selama kesimpulan itu tidak ada bukti yang menyangkalnya maka kesimpulan itu benar.
            Logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Misalnya, jika selama bulan November dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun, maka tidak dapat dipastikan bahwa selama bulan November tahun ini juga akan turun hujan.  Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah mengenai tingkat peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun hujan”. Maka kesimpulan yang ditarik secara induktif dapat saja salah, meskipun premis yang dipakainya adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah, namun dapat saja kesimpulannya salah. Sebab logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang.
   Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Untuk mengetahui keadaan suatu obyek, seseorang tidak harus melakukan pengukuran satu persatu terhadap semua obyek yang sama, tetapi cukup dengan melakukan pengukuran terhadap sebagian obyek yang dijadikan sampel. Walaupun pengukuran terhadap sampel tidak akan seteliti jika pengukuran dilakukan terhadap populasinya, namun hasil dari pengukuran sampel dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Setelah melakukan observasi dan eksperimen kemudian merumuskan suatu hipotesis untuk dilakukan verifikasi dan uji coba terhadap data dan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Berdasarkan pengkajian-pengkajian terhadap data dan keadaan di lapangan tersebut dapat dirumuskan suatu kesimpulan yang nantinya menjadi sebuah teori atau hukum ilmiah. Artinya, kesimpulan yang ditarik bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi telah melalui tahap-tahap berpikir tertentu dengan melibatkan data dan fakta yang terjadi di lapangan. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia, umpamanya, bagimana caranya kita mengumpulkan data sampai pada kesimpulan tersebut. Hal yang paling logis adalah melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak 10 tahun di Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tak dapat diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negara kita, tetapi kegiatan ini menghadapkan kita kepada persoalan tenaga, biaya, dan waktu yang cukup banyak. Maka statistika dengan teori dasarnya teori peluang memberikan sebuah jalan keluar, memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi. Jadi untuk mengetahui tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia kita tidak melakukan pengukuran untuk seluruh anak yang berumur tersebut, tetapi hanya mengambil sebagian anak saja.
            Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah, maka kesimpulan itu belum tentu benar. Tapi kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar. Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil, maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya.
Langkah yang ditempuh dalam logika induktif menggunakan statistika menurut Sumarna (2008) adalah: Observasi dan eksperimen, memunculkan hipotesis ilmiah, verifikasi dan pengukuran, serta sebuah teori dan hukum ilmiah.
            Statistika juga memberikan contoh kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Dalam hal ini statistika berfungsi meningkatkan ketelitian pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan semua yang bersifat kebetulan. Terlepas dari itu semua dalam hal penarikan kesimpulan secara induktif kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan.
           

2.3. Peranan Statistika dalam Tahap-tahap Metode Keilmuan
            Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Walaupun begitu, sangat menolong untuk mengenal langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuan yang dapat dirinci sebagai berikut:
a.       Observasi. Peranan statistika dalam hal ini, statistika dapat mengemukakan secara terperinci tentang analisis mana yang akan dipakai dalam observasi dan tafsiran apa yang akan dihasilkan dari observasi tersebut. Tafsiran ini akan menitikberatkan pada tingkat kepercayaan kesimpulan yang ditarik dari berbagai kemungkinan dalam membuat kesalahan.
b.      Hipotesis. Untuk menerangkan fakta yang diobservasi dugaan yang sudah ada dirumuskan dalam sebuah hipotesis atau teori, yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapan ditemukan dalam data tersebut. Dalam tahap kedua ini, statistika membantu kita dalam mengklasifikasikan, mengikhtisarkan dan menyajikan hasil observasi dalam bentuk yang dapat dipahami dan memudahkan kita dalam mengembangkan hipotesis. Cabang statistika yang berhubungan dalam hal ini dinamakan statistika deskriptif (yang berlainan dengan statistika analitis), yakin cabang statistika yang mencakup berbagai metode dalam merencanakan observasi, analisis dan penarikan kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah.
c.       Ramalan. Dari hipotesis atau teori dikembangkan deduksi. Jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat deduksi akan merupakan sesuatu pengetahuan baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuan ilmuwan untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menuju hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
d.      Pengujian Kebeneran. Ilmuwan lalu mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini, keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Jika teorinya didukung sebuah data, teori tersebut mengalami pengujian dengan lebih berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan mempunyai jangkauan lebih jauh, dimana ramalan ini kebenarannya diuji kembali sampai akhirnya ilmuwan tersebut menemukan beberapa penyimpangan yang memerlukan beberapa perubahan dalam teorinya. Sebaliknya, jika dikemukakan bertentangan dengan fakta, ilmuwan tersebut menyusun hipotesis baru yang sesuai dengan fakta-fakta yang telah dia kumpulkan. Kemudian hipotesis baru tersebut kembali diuji kebenarannya lewat “langkah perjanjian” seterusnya. Tidak ada kebenaran yang bersifat akhir dalam ilmu. Kegagalan dalam menolak hipotesis akan mempertebal keyakinan kita pada hipotesis tersebut, sebab taka da dengan proses pengujian berapapun jumlahnya justru membuktikan bahwa hipotesis itu akan selalu benar (Amsal Bakhtiar, 2012).
Dalam tahap ini sebuah hipotesis dianggap teruji kebenarannya jika ramalan yang dihasilkan berupa fakta.



   



BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1.      Statistika merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan dalam mendeskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka, baik melalui hitungan maupun pengukuran. Dengan statistika kita dapat melakukakn pengujian dalam bidang keilmuan sehingga banyak masalah dan pernyataan keilmuan dapat diselesaikan secara faktual. Peranan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah, sebagai suatu metode untuk membuat keputusan dalam bidang keilmuan yang berdasarkan logika induktif. Karena statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif.
2.      Statistika berpikir secara induktif, bertitik tolak dari sejumlah hal-hal yang bersifat khusus untuk sampai pada suatu rumusan yang bersifat umum sebagai hukum ilmiah.
3.      Peranan statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan ada 4 yaitu observasi, hipotesis, ramalan dan pengujian kebenaran yang sangat membantu untuk mengenal langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuan.

3.2. Saran
            Dengan adanya makalah ini semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang statistika sebagai sarana berpikir ilmiah, baik dari peranan statistika berpikir secara induktif dan peranan statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan baik dari rujukan atau referensi maupun penulisan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan pada kesempatan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Salam, Burhanuddin. 2001. Logika Materiil: Filsafat Ilmu Pengetahuan. Renika Cipta, Jakarta.
Sumarna, Cecep. 2008. Filsafat Ilmu. Mulia Press, Bandung.
Suriasumantri, Jujun S. 2009. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
___________, 1984. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Gramedia, Jakarta.
Sudjono, Anas. 1996. Pengantar Statistik Pendidikan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Partanto, Pius A. & Dahlan Al-Barry, M., 1994. Kamus Ilmiah Populer. Arkola, Surabaya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacillus subtilis